Corong Publik, Bengkayang, Kalbar // – Anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di wilayah Bengkayang, Landak, dan Singkawang memicu protes dari Serikat Pekerja Kelapa Sawit (SPKS). Para petani menilai penurunan harga tersebut bukan semata akibat mekanisme pasar, melainkan diduga dipengaruhi lemahnya pengawasan pemerintah terhadap Pabrik Kelapa Sawit (PKS).
Ketua SPKS Kabupaten Bengkayang, Heru Kamaruzzaman pada Senin (1/6/2026), mengatakan harga TBS yang sebelumnya berada di kisaran Rp3.200 hingga Rp3.700 per kilogram turun drastis menjadi Rp2.650 per kilogram. Bahkan, pada 25 Mei 2026, harga di tingkat PKS disebut turun hingga Rp2.100 per kilogram, sehingga harga di tingkat petani swadaya hanya berkisar Rp1.200 hingga Rp1.600 per kilogram.
Menurut Heru, kondisi tersebut sangat memberatkan petani di tengah tingginya biaya operasional perkebunan, ongkos angkut, dan mahalnya harga pupuk. Ia menilai penurunan harga tidak sejalan dengan tren harga Crude Palm Oil (CPO) dunia yang justru mengalami kenaikan.
Heru juga merujuk hasil rapat koordinasi Kementerian Pertanian bersama stakeholder dan Satgas Pangan di Jakarta pada 29 Mei 2026. Dalam rapat tersebut disepakati masa transisi tata kelola ekspor berlangsung mulai 1 Juni hingga 31 Agustus 2026, sedangkan implementasi penuh dijadwalkan pada 1 Januari 2027.
“Selama masa transisi, ekspor tetap berjalan normal seperti biasa,” ujar Heru.
SPKS menilai tidak ada alasan bagi PKS untuk menekan harga maupun melakukan penghentian pembelian yang dapat memicu gejolak harga di tingkat petani.
Karena itu, SPKS mendesak perusahaan segera menaikkan harga TBS minimal Rp3.500 per kilogram. Selain itu, pemerintah daerah diminta aktif mengawasi pelaksanaan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 13 Tahun 2024 terkait tata niaga TBS sawit.
“Jika ditemukan PKS membeli TBS tidak sesuai ketentuan, pemerintah harus mengidentifikasi status perusahaan dan melaporkannya ke Kementerian Pertanian,” tegas Heru.
Dewan Pengawas SPKS Kabupaten Bengkayang, Ajis Hidayat, turut menyampaikan keluhan petani atas kondisi tersebut. Ia mempertanyakan penyebab turunnya harga sawit yang terjadi secara mendadak.
“Kami sangat mengeluhkan anjloknya harga TBS kelapa sawit. Petani ingin ada kejelasan terkait penyebab penurunan harga ini,” kata Ajis.
Menurutnya, beban petani semakin berat akibat kenaikan harga bahan bakar dan mahalnya pupuk non-subsidi. Hingga kini, petani sawit swadaya juga mengaku belum mendapatkan akses pupuk subsidi.
“Kami berharap pemerintah tidak hanya mengawasi harga TBS, tetapi juga memperhatikan kebutuhan pupuk bagi petani,” tambahnya.
Keluhan serupa juga disampaikan petani sawit di Singkawang. Seorang petani bernama Satono berharap PKS segera menaikkan harga beli TBS agar sesuai dengan biaya produksi yang terus meningkat.
“Kami berharap PKS segera menyesuaikan harga TBS agar lebih layak bagi petani,” ujarnya.
Petani berharap pemerintah daerah dan perusahaan segera mengambil langkah nyata guna menjaga stabilitas harga sawit dan keberlangsungan ekonomi petani di Kalimantan Barat.
Sumber : Latif Ibrahim
( Heru )







