Corong Publik News, Singkawang, Kalbar // – Semangat nasionalisme masyarakat Kota Singkawang, Kalimantan Barat, kembali menunjukkan kekuatannya. Keterbatasan anggaran pemerintah tidak menyurutkan tekad warga untuk merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Meski Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang sebelumnya mengumumkan peniadaan pawai atau karnaval 17 Agustus, masyarakat justru mengambil inisiatif untuk menggelar perayaan secara mandiri. Mengusung semangat “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, dan Untuk Rakyat”, karnaval kemerdekaan tersebut sukses digelar secara swadaya dan mendapat perhatian luas di media sosial.
Di balik kemeriahan parade yang menyedot perhatian ribuan warga, terdapat kisah perjuangan masyarakat yang berawal dari kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah daerah.
Polemik bermula setelah Pemkot Singkawang melalui akun Facebook resmi Kominfo Singkawang mengumumkan peniadaan pawai karnaval 17 Agustus.
Dalam pengumuman tersebut, pemerintah menyebut kondisi udara yang tidak sehat akibat kabut asap atau jerebu serta efisiensi anggaran daerah sebagai pertimbangan kebijakan.
Keputusan itu kemudian menuai beragam reaksi masyarakat di media sosial. Sejumlah warga mempertanyakan kebijakan tersebut, termasuk mengenai transparansi penggunaan anggaran daerah.
Sebagian masyarakat menilai terdapat ketimpangan kebijakan karena pemerintah masih dapat membiayai sejumlah agenda lainnya, sementara karnaval kemerdekaan yang telah menjadi tradisi tahunan justru ditiadakan.
Di tengah keresahan tersebut, Wakhid Endro Utomo (36), pemuda asli Singkawang lulusan STPM APMD Yogyakarta, berinisiatif menggalang gerakan moral agar tradisi karnaval kemerdekaan tetap dapat dilaksanakan.
Melalui akun TikTok miliknya, @fadilsuwendroshakeel, Wakhid mengunggah sebuah video terbuka yang ditujukan kepada FKPPI Singkawang.
“FKPPI Kota Singkawang, kami butuh kalian agar karnaval 17 Agustus tahun ini bisa terlaksana.”
Unggahan tersebut kemudian mendapat respons luas dan menjadi salah satu pemantik terbentuknya gerakan nyata di lapangan.
Ajakan Wakhid mendapat respons dari sejumlah rekannya yang merupakan anggota Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri (FKPPI).
Melalui konsolidasi yang difasilitasi FKPPI Singkawang, masyarakat kemudian membentuk kepanitiaan independen untuk menyelamatkan perayaan kemerdekaan.
Dalam kepanitiaan tersebut, DA Siswono dipercaya sebagai ketua pelaksana, sedangkan Wakhid Endro Utomo sebagai sekretaris.
Gotong Royong Tanpa Bantuan Anggaran Pemerintah
Dengan waktu persiapan yang relatif singkat, masyarakat bergerak secara gotong royong. Warga menyumbangkan dana, tenaga, pikiran, hingga waktu untuk memastikan karnaval tetap terlaksana.
Tidak ada bantuan dana dari pemerintah daerah dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Seluruh kebutuhan dipenuhi melalui swadaya dan partisipasi masyarakat.
Hasilnya, karnaval kemerdekaan yang digelar pada Sabtu, 22 Agustus 2026, berlangsung meriah dan dipadati masyarakat. Parade warga berhasil menghadirkan suasana perayaan kemerdekaan yang semarak, meski sebelumnya kegiatan tersebut sempat dinyatakan ditiadakan.
Namun, di tengah kemeriahan acara, panitia menyebut tidak terlihat perwakilan dari jajaran birokrasi Pemerintah Kota Singkawang di lokasi kegiatan.
Saat dimintai keterangannya melalui sambungan telepon pada Senin (24/8/2026), Wakhid Endro Utomo menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam pelaksanaan karnaval.
“Saya berterima kasih kepada FKPPI Singkawang yang telah membantu dan memfasilitasi kegiatan ini. Terima kasih kepada Pak Irwan selaku Ketua FKPPI Singkawang, terima kasih kepada Mas DA Siswono, dan terima kasih kepada seluruh masyarakat Kota Singkawang,” ujar Wakhid.
Terkait tidak terlihatnya perwakilan Pemkot Singkawang dalam kegiatan tersebut, Wakhid mengatakan pihak panitia sebenarnya telah mengirimkan undangan resmi kepada jajaran pemerintah daerah.
“Undangan sudah kami kirimkan secara resmi, baik kepada Wali Kota, Wakil Wali Kota, hingga kepala semua dinas terkait. Namun sangat disayangkan, di hari H saya tidak melihat perwakilan mereka,” ungkapnya.
“Saya berpikir positif saja, mungkin semua pejabat atau perwakilan Pemkot sedang ada agenda lain yang bersamaan,” tambahnya.
Dari Rakyat, Oleh Rakyat, dan Untuk Rakyat
Karnaval swadaya tersebut menjadi gambaran kuat mengenai semangat gotong royong masyarakat Singkawang dalam menjaga tradisi perayaan kemerdekaan.
Bagi masyarakat yang terlibat, kemeriahan HUT RI tidak semata-mata bergantung pada besarnya anggaran pemerintah. Partisipasi warga justru menjadi kekuatan utama yang mampu menghidupkan kembali sebuah tradisi.
Gerakan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa semangat kemerdekaan dapat tumbuh dari masyarakat sendiri—dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Karnaval Singkawang tahun ini pun bukan sekadar parade kemerdekaan, melainkan menjadi cerita tentang solidaritas, gotong royong, dan keberanian masyarakat untuk mengambil peran ketika sebuah tradisi menghadapi keterbatasan.
( Dino Santana )







