Peringati Sumpah Pemuda, PMI Singkawang Ajak Generasi Muda Perkuat Mitigasi dan Pengawasan Dana Bencana

Corong Publik News, Singkawang, Kalbar // – Singkawang, Kalbar // – Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kota Singkawang, Mokhlis, membuka secara resmi kegiatan Gelas Rekonsiliasi (Ge-Re) yang digelar di Cafe Tepi Sungai, depan Masjid Raya Singkawang, Kalimantan Barat, pada Senin (2/11/2026).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Pimpinan Cabang Pemuda Muslimin Indonesia (PMI) Kota Singkawang ini adalah dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026 dengan mengusung tema yang sangat relevan dengan kondisi terkini, yaitu Optimalisasi Peran Pemuda dan Mahasiswa Mendukung Kebijakan Pemerintah dalam Penanganan Bencana dan Mengawal Transparansi Bantuan Anggaran Penanganan Bencana di Kota Singkawang.

Dalam sambutannya, Mokhlis menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh dari Pemerintah Kota Singkawang terhadap ruang diskusi kritis yang dibangun oleh kalangan pemuda.

“Kami dari pihak Pemerintah sangat menyambut baik kegiatan ini dan berharap kegiatan ini bisa dilaksanakan secara berkelanjutan,” ucap Mokhlis.

Menurutnya, Ge-Re bukan sekadar forum diskusi biasa, melainkan ruang strategis untuk bertukar gagasan, menerima saran, masukan, serta menambah wawasan dan pengetahuan bersama, terutama dalam isu kebencanaan yang menjadi perhatian serius pemerintah.

Sesuai dengan tema yang diangkat, Mokhlis mengungkapkan bahwa Kota Singkawang memang ada mendapatkan bantuan dana sebesar Rp15 miliar dari pemerintah pusat untuk penanganan bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Pengelolaan dana tersebut akan digiring oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan didistribusikan kepada beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang memiliki kewenangan, salah satunya adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Singkawang.

Ia menegaskan pentingnya transparansi dalam pengelolaan dana tersebut, sehingga peran pemuda dan mahasiswa untuk ikut mengawal menjadi sangat penting.

Dalam kondisi kabut asap yang cukup pekat beberapa waktu terakhir, Kota Singkawang memang telah ditetapkan dalam status siaga bencana. Dampaknya pun dirasakan secara luas di berbagai sektor.

“Beberapa sektor ikut terdampak yang salah satunya lumpuhnya Bandara Singkawang selama satu bulan lebih,” ujarnya.

Mokhlis menjelaskan, lumpuhnya bandara bukan sekadar persoalan transportasi, melainkan berdampak langsung pada roda perekonomian daerah.

Bandara juga merupakan salah satu penggerak ekonomi utama, di mana kemudahan akses membuat orang dari luar mudah datang ke Singkawang untuk berbelanja, berwisata kuliner, dan menggerakkan UMKM.

Oleh karena itu, peran pemuda sebagai pilar tangguh bencana menjadi sangat krusial. Pemuda diharapkan tidak hanya berhenti di tataran diskusi, tetapi juga mampu menggerakkan aksi nyata di lapangan.

“Pemuda sebagai pilar tangguh bencana, pemuda menggerakkan mitigasi untuk mengurangi resiko, membangun sistem peringatan dini berbasis komunitas dan bersinergi bersama pemerintah untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi bencana,” jelasnya.

Ia berharap, melalui kegiatan Ge-Re ini, lahir pemuda-pemuda yang peduli, tanggap, dan siap turun langsung membantu pemerintah dalam menangani bencana yang ada di Kota Singkawang.

“Pemuda selain bisa melakukan diskusi juga diharapkan untuk bisa turun langsung ke lapangan untuk ikut membantu pemerintah menangani bencana yang ada,” harapnya.

Pewarta : Dewi setia ningsih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *