SPKS Perkuat Lima Koperasi Petani Sawit di Bengkayang dan Sambas, Dorong Naik Kelas Lewat RSPO dan ISPO

Corong Publik News, Singkawang, Kalbar // – Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) terus mendorong penguatan kelembagaan petani kelapa sawit swadaya di Kalimantan Barat. Salah satunya melalui pelatihan penguatan manajemen dan pengembangan usaha bagi lima koperasi produsen petani sawit binaan SPKS di Kabupaten Bengkayang dan Sambas.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 27–29 Agustus 2026, di Villa Bukit Mas Singkawang, Kalimantan Barat, tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas pengurus koperasi agar tidak hanya berfungsi sebagai wadah administratif, tetapi mampu berkembang menjadi pusat pengorganisasian ekonomi dan pengendalian praktik perkebunan sawit berkelanjutan.

Sebanyak 20 peserta dari lima koperasi binaan SPKS mengikuti kegiatan tersebut. Lima koperasi itu masing-masing Koperasi Produsen Petani Berkah Sejahtera Bengkayang, Koperasi Produsen Capkala Sejahtera Mandiri Bengkayang, Koperasi Produsen Petani Nibus Mandiri Sambas, Koperasi Produsen Tandan Kelapa Sawit Sejahtera Bersama Sambas, serta Koperasi Produsen Mabar Abadi Sejahtera Sambas.

Lima koperasi tersebut dibentuk pada 2026, terdiri dari tiga koperasi di Kabupaten Sambas dan dua koperasi di Kabupaten Bengkayang.

SPKS sebelumnya melakukan pendataan petani, pelatihan, serta pendampingan terkait praktik budidaya kelapa sawit berkelanjutan. Petani yang telah mendapatkan peningkatan kapasitas kemudian dihimpun dalam kelembagaan koperasi sebagai wadah ekonomi bersama.

Namun, karena masih berada pada tahap awal pengembangan, pengurus koperasi dinilai membutuhkan pemahaman dan keterampilan dasar mengenai perkoperasian, tata kelola organisasi, administrasi, pengelolaan keuangan, perencanaan usaha hingga pengembangan unit usaha.

Pengurus Pusat SPKS Nasional, Muhammad Ridwan, mengatakan pelatihan tersebut juga diarahkan untuk memperkenalkan skema pengembangan kelapa sawit berkelanjutan melalui sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

“Melalui pelatihan ini, peserta juga akan mendapatkan pendalaman mengenai konsep dan praktik kelapa sawit berkelanjutan, khususnya melalui pengenalan dan pemahaman terhadap skema sertifikasi RSPO dan ISPO,” ujar Muhammad Ridwan di sela kegiatan.

Menurutnya, koperasi secara bertahap didorong memahami dan memenuhi prinsip serta kriteria keberlanjutan dengan melibatkan seluruh anggota sebagai bagian dari sistem pengelolaan bersama.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat kredibilitas koperasi sekaligus meningkatkan daya saing dan posisi tawar petani dalam rantai pasok kelapa sawit.

Direktur Lembaga Strategy Nasional Yogyakarta, Syarief Ariyfaid, yang menjadi salah satu pemateri pembekalan manajerial koperasi, menegaskan bahwa koperasi harus mampu menjalankan fungsi ekonomi secara nyata.

Menurutnya, koperasi tidak boleh berhenti sebagai lembaga yang hanya mengurus administrasi anggota.

“Dalam pelaksanaannya, koperasi diharapkan tidak hanya berperan sebagai wadah administratif bagi petani, tetapi berkembang menjadi pusat pengorganisasian dan pengendalian praktik perkebunan berkelanjutan,” katanya.

Ia menjelaskan, penerapan prinsip keberlanjutan dan kesiapan menuju sertifikasi RSPO maupun ISPO dapat menjadi salah satu fondasi untuk memperluas akses pasar, membuka peluang kemitraan serta meningkatkan nilai ekonomi bagi anggota koperasi.

Dengan tata kelola yang semakin baik, koperasi petani diharapkan memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam menghadapi rantai pasok komoditas kelapa sawit.

Pelatihan tidak hanya dilakukan melalui metode pembelajaran di dalam ruangan. Peserta juga mengikuti metode experiential learning atau outbound training.

Metode tersebut dirancang untuk membangun kerja sama tim, kemampuan memecahkan persoalan serta memperkuat kapasitas pengurus dalam menjalankan organisasi koperasi.

Sejumlah materi yang diberikan mencakup pemahaman dasar perkoperasian, manajemen koperasi, administrasi dan keuangan, identifikasi potensi usaha, perencanaan dan pengembangan unit usaha, akses pasar, kemitraan serta prinsip dan kriteria kelapa sawit berkelanjutan.

Peserta juga diarahkan untuk mampu menyusun rencana kerja, rencana anggaran pendapatan dan belanja koperasi, membangun strategi bersama melalui kerja tim atau holding kekuatan koperasi, serta menyusun rencana implementasi praktik kelapa sawit berkelanjutan.

Ketua SPKS Kabupaten, Heru Kamaruzzaman, yang juga menjadi salah satu pemateri dalam kegiatan tersebut, mengatakan suasana pelatihan sengaja dibuat lebih interaktif agar peserta dapat membangun kapasitas secara lebih efektif.

“Kegiatan ini dilaksanakan dalam suasana happy full exist. Tujuannya untuk membangun kapasitas pengurus yang kompeten di bidang manajerial perkoperasian sebagai sendi-sendi ekonomi kerakyatan,” ungkap Heru.

Ia berharap koperasi yang dibina dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi bagi petani dan kelompok tani perkebunan di sekitarnya.

Heru yang juga dikenal sebagai Direktur Klinik Konsultasi Bisnis dan Hukum bagi SPKS di Kalimantan Barat tersebut menilai penguatan koperasi harus berujung pada manfaat nyata bagi anggota.

“Ke depan dapat menjadi pencetus koperasi yang berprestasi secara nyata, meningkatkan kesejahteraan anggota sekaligus menjadi petani kelapa sawit yang berkelanjutan sesuai dengan harapan dunia saat ini untuk terpenuhinya standar mutu melalui ISPO dan RSPO,” pungkasnya.

Melalui penguatan manajemen, kelembagaan, akses pasar dan penerapan praktik berkelanjutan, SPKS berharap lima koperasi produsen di Bengkayang dan Sambas mampu berkembang dari sekadar wadah petani menjadi kekuatan ekonomi bersama yang memiliki daya saing lebih tinggi dalam industri kelapa sawit.

( Rinto Andreas )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *