Empat Kali Mediasi Tak Tuntas, Warga Dusun Dungkan Desak Evaluasi Kandang Ayam di Tengah Permukiman

Corong Publik News, Bengkayang, Kalbar // – Warga Dusun Dungkan, Desa Darma Bakti, Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, mengeluhkan dampak keberadaan kandang ayam yang berada di tengah kawasan permukiman.

Warga menyebut bau menyengat dan serbuan lalat semakin mengganggu aktivitas serta kenyamanan masyarakat. Kondisi tersebut bahkan disebut sempat memicu ketegangan antara warga dengan pihak pengelola kandang ayam.

Salah seorang warga Dusun Dungkan, Heru Kamaruzaman, pada Senin (10/8/2026), mengatakan persoalan tersebut bukan kali pertama dikeluhkan masyarakat. Menurutnya, mediasi antara warga dan pihak pengelola kandang ayam telah dilakukan hingga empat atau lima kali, namun solusi yang dihasilkan dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan secara permanen.

“Ini sudah mediasi sampai empat atau lima kali. Setiap mediasi ada solusi, tapi tidak bertahan lama. Sekarang baunya memang berkurang, tapi lalatnya luar biasa banyak,” ujar Heru.

Ia mengungkapkan, situasi sempat memanas ketika terdapat bangkai ayam yang tidak segera ditangani hingga berhari-hari. Kondisi tersebut menyebabkan bau menyengat dan memicu kemarahan warga.

“Pernah hampir terjadi konflik karena ayam dibiarkan sampai hampir seminggu. Itu yang membuat warga marah,” katanya.

Menurut Heru, warga yang terdampak langsung kemudian datang secara spontan untuk menyampaikan keluhan karena menilai persoalan tersebut belum mendapatkan penanganan serius dari pihak pengelola kandang.

Selain persoalan bau dan lalat, warga juga mempertanyakan proses pembangunan kandang ayam yang dinilai kurang transparan. Heru menyebut, pada saat sosialisasi, mayoritas warga Dusun Dungkan telah menyampaikan penolakan terhadap rencana pembangunan kandang tersebut.

“Waktu sosialisasi warga Dusun Dungkan mayoritas menolak, hanya beberapa orang saja yang setuju, tapi tetap dibangun. Kami juga bingung siapa yang memberi izin,” ungkapnya.

Warga juga mengaku pernah mendapat penjelasan dari pihak perusahaan bahwa keberadaan kandang ayam tersebut tidak akan menimbulkan persoalan bau meskipun lokasinya berada dekat dengan permukiman.

Namun, menurut Heru, kondisi di lapangan justru berbeda dengan apa yang disampaikan saat sosialisasi.

Tidak hanya persoalan lingkungan, warga juga mempertanyakan manfaat ekonomi dari keberadaan kandang ayam tersebut bagi masyarakat sekitar.

“Katanya untuk ketahanan pangan, tapi ayamnya justru dikirim keluar kota. Kami di sini tidak merasakan manfaatnya,” ujarnya.

Heru menegaskan bahwa masyarakat tidak menolak investasi. Warga, kata dia, justru mendukung investasi yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat, selama keberadaannya tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan warga.

“Kami tidak menolak investasi. Justru kami mendukung kalau ada yang bisa meningkatkan ekonomi, tapi jangan sampai kami hanya menerima dampaknya saja,” tegasnya.

Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk mencari solusi atas persoalan tersebut, termasuk melakukan evaluasi terhadap izin serta operasional kandang ayam yang berada di tengah permukiman.

Pertemuan lanjutan antara warga, pihak perusahaan dan pemerintah dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 11 Agustus 2026, pukul 10.00 WIB.

Warga berharap pertemuan tersebut tidak kembali berakhir pada janji tanpa realisasi.

“Harapan kami sederhana, ada solusi nyata. Jangan hanya janji. Kami ingin lingkungan kembali nyaman dan sehat,” tutup Heru.

( Rinto Andreas )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *